Selasa, 05 Juni 2012

Tugas


SASTRA DAERAH
( Cerita rakyat )

Oleh
Kelompok II
Yusniatin     A2DI 09 159
Hasnia Mera    A2D1 09 161
Riva Mayaska    A2D1 09 175
Neni Hartini    A2D1 09 176
Deharman     A2D1 09 148
La Banara    A2D1 09169


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan semesta alam karena atas segala nikmat dan ridho-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Cerita Rakyat”.
Terima kasih dan penghormatan yang sebesar-besarnya kepada sebagai Pembimbing mata kuliah sastra daerah atas bimbingan, saran, kritik dan nasehat serta dengan tekun dan penuh kesabaran memberikan petunjuk dan membantu menyelesaikan makalah kami.










DAFTAR ISI
                                                                   Halaman
\                                              

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………   i
HALAMAN PERSETUJUAN …………………………………………….    .   ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….    .  iii
   
BAB I       PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ……………. ……………………………….............   1
1.2 Masalah ………………………………………………………………...       6
1.3 Tujuan ………….…………………………………………………….   6
1.4 Manfaat…………. ………………………………………………….....       6

BAB II  PEMBAHASAN
2.1 Konsep Tentang Sastra .........................................................         7       
2.2 Sastra Lisan…………………………………………………………..   7
2.3 Cerita Rakyat…………………………………………….............       7   
2.3.1Llegenda………………………………………………           8
2.3.2 Sage...…………………………………………………              8               
2.3.3 Mite……………………………………………………          8
2.3.4 Fabel……………………………………………………….    8
2.3.5 Paralel……………………………………………………      8
2.3.6 Cerita Penggeli Hati…………………………………           9
2.3.7 Hikayat……………………………………………………     10
2.4 Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara…………………………………      13
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................    19
5.2 Saran ....................................................................................     19
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................              20       

BAB I
PENDAHULUAN
1.    1 Latar Belakang
Sastra sebagai cabang dari seni, yang keduanya unsur integral dari kebudayaan, usianya sudah cukup tua. Kehadiran hampir bersamaan denga adanya manusia, karena ia diciptakan dan dinikmati manusia. Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia, baik dari aspek manusia yang memanfaatkanya bagi pengalaman hidupnya, maupun dari aspek penciptanya, yang mengekspresikan pengalaman batinnya ke dalam karya sastra.
Ditinjau dari segi pencipta ( pengarang dalam sastra tulis dan pawing atau pelipur lara dalam sastra lisan), karya sastra  merupakan pengalaman batin penciptanya mengenai kehidupan masyarakat dalam suatu kurun waktu dan situasi budaya tertentu. Di dalam karya sastra dilukiskan keadaan dan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa-peristiwa, ide dan gagasan, serta nilai-nilai yang diamanatkan.
Sastra rakyat ialah kesusastraan yang lahir dikalangan rakyat. Pada lazimnya, sastra rakyat merujuk kepada kesusastraan rakyat dari pada masa lampau, yang telah menjadi warisan kepada sesuatu masyarakat. Sastra rakyat adalah sebagian daripada kehidupan budaya bagi masyarakat lama. Misalnya, dalam masyarakat Melayu Lama cerita rakyat merupakan satu bentuk hiburan yang penting untuk orang kampung cipta lewat tokoh-tokoh cerita. Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai aspek kehidupanya, sehingga karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan serta zamannya.

Sastra sering dikatakan (juga sering dituntut) agar mencerminkan kenyataan (Luxemburg et al., dalam Pasassung dan Ahid Hidayat, 2006:48). Berpikir tentang sastra, maka perhatian kita akan tertuju pada kenyataan bahwa sastra sebagai seni. Sastra sebagai cabang dari seni yang kedua unsur integral dari kebudayaan, usianya sudah semakin tua. Kehadirannya hampir bersamaan dengan manusia karenanya diciptakan dan dinikmati oleh manusia.
Karya sastra merupakan salah satu sarana untuk mengungkapkan masalah manusia dan kemanusiaan. Melalui karya sastra, seorang pengarang berusaha untuk mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan yang telah tinggi. Penciptaan karya sastra dilatarbelakangi oleh keinginan pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang dicita-citakan. Jadi, karya sastra menyelami segala kehidupan manusia di dunia ini (Kurniawan, 2008:3).
Karya sastra lahir tidak saja karena fenomena-fenomena yang lugas,  tetapi juga dari kesadaran pengarangnya bahwa sastra sebagai sesuatu yang imajinatif, fiktif, juga harus mengandung nilai-nilai yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karya sastra pada dasarnya berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan sosial. Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki kehidupan sosial yang berbeda dengan suku bangsa lain.. Sastra terlahir atas hasil karya perilaku manusia dalam kebudayaan yang beranekaragam suku, ras, agama, dan tradisi yang berbeda-beda. Keanekaragaman tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan hal itu memberikan pemasalahan dengan pemahaman serta tanggapan yang berbeda-beda (Wijayanthi, dalam Kurniawan, 2008: 1).
Karya sastra merupakan hasil dari kreativitas manusia baik secara tertulis maupun secara lisan. Karya sastra yang tertulis misalnya prosa, cerita pendek, cerita bersambung, novel dan lain-lain, sedangkan karya sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan turun-temurun secara lisan, dan salah satu jenis karya sastra lisan adalah cerita rakyat. Kaitannya dengan ini Soeprapto (dalam Kurniawan, 2008: 3) menyatakan bahwa salah satu ciri yang membedakan foklor dengan kebudayaan yang lain adalah cara penyebaran maupun kelestariannya yang dilakukan secara lisan.
Pemahaman terhadap karya sastra akan memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, misalnya saja mengenai nilai-nilai sejarah, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam karya sastra. Namun, dewasa ini budaya lokal yang menjadi ciri khas dan jiwa bangsa semakin terkikis oleh pengaruh budaya asing. Hal itu terjadi karena arus globalisasi yang melibatkan negara-negara di dunia menjadikan begitu mudahnya budaya-budaya asing masuk dan berbaur dengan budaya yang secara langsung mempengaruhi tatanan budaya bangsa. Demikian halnya dengan sastra lisan yang berbentuk cerita rakyat seolah-olah terlupakan dan enggan dikaji.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi sekarang ini, bertambahnya pengetahuan dan berubahnya gaya hidup masyarakat berpengaruh pada dunia sastra. Banyak bermunculan sastra-sastra modern dengan asas kebebasan yang sering kali mengabaikan nilai jati diri bangsa. Bersamaan itu pula cerita rakyat semakin ditinggalkan dan dilupakan dalam masyarakat. Cerita rakyat sebagai salah satu hiburan dalam masyarakat tampaknya tenggelam oleh cerita sinetron dan sejenisnya yang disuguhkan di televisi. Salah satu alasannya karena sinetron lebih nyata alurnya sehingga mudah dipahami dan dinikmati. Padahal cerita rakyat merupakan tradisi budaya yang memegang teguh nilai-nilai luhur, didalamnya terdapat terdapat ajaran-ajaran moral yang bermanfaat bagi generasi penerus untuk menjaga sifat-sifat budaya bangsa yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang penyebarannya dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut. Dalam bahasa sehari-hari cerita rakyat lebih dikenal oleh masyarakat sebagai dongeng. Hutomo (dalam Kurniawan 2008:3) berpendapat bahwa sastra lisan mengandung nilai budaya nenek moyang, sebab sastra lisan termasuk bagian dari folklor. Selanjutnya menurut Danandjaja (1997: 2) folklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun disertai contoh dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.
Dongeng (cerita rakyat) meupakan suatu cerita fantasi yang kejadian-kejadiannya tidak benar-benar terjadi. Dongeng disajikan dengan cara bertutur lisan oleh tukang cerita. Pada umumnya dongeng berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dan kebudayaan primitif terhadap hal-hal yang supranatural dan manifestasinya dalam alam kehidupan manusia seperti animisme. Bagi manusia dongeng berfungsi sebagai hiburan, kepercayaan yang bersifat didaktik yaitu pengajaran moral dan nasehat bagi kehidupan sehari-hari, dan sebagai sumber pengetahuan (Zulfahnur, dkk, 1997:43-44)
1.    2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.    Pengertian cerita rakyat.
b.    Ciri-ciri cerita rakyat.
c.    Jenis-jenis cerita rakyat.

1.    3 Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah agar makalah ini bisa di jadikan referensi dan pedoman bagi pembaca.
1.    4 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.    Penulis dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang cerita rakyat.
2.    Pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang cerita rakyat yang ada disetiap daerah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Konsep Tentang Sastra
Karya sastra pada dasarnya berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan sosial. Sastra terlahir atas hasil karya perilaku manusia dalam kebudayaan yang beranekaragam suku, ras, agama, dan tradisi yang berbedabeda. Keanekaragaman tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan hal itu memberikan pemasalahan dengan pemahaman serta tanggapan yang berbeda-beda (Wijayanthi, dalam Kurniawan 2008:1).
Membahas tentang sastra, begitu banyak para ahli mengemukakan batasan-batasannya. Para ilmuwan mengemukakan versi masing-masing yang pada umumnya memberikan gambaran kehidupan manusia dalam kurun waktu tertentu.
Sumardjo (1989:11) mengemukakan bahwa tidak mungkin memberikan defenisi yang universal mengenai sastra. Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai. Sastra adalah sebuah nama dengan alasan tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan.
    Untuk lebih jelasnya berikut pendapat dua para ahli sastra :
1.    Jakob Sumardjo; sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat dan keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
2.    Perkamin; kesusastraan berdasarkan arti katanya adalah semua tulisan atau ungkapan yang indah yang arti didalamnya tercapai keseimbangan antara isinya yang indah dan dilahirkan dengan bahasa yang indah pula (Zulfahnur, dkk. 1997:3).
Karya sastra merupakan hasil dari kreativitas manusia baik secara tertulis maupun secara lisan. Karya sastra yang tertulis misalnya prosa, cerita pendek, cerita bersambung, novel dan lain-lain, sedangkan karya sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan turun-temurun secara lisan, dan salah satu jenis karya sastra lisan adalah cerita rakyat.
2.2     Sastra Lisan
Sebagai data kebudayaan, sastra dapat dibedakan menjadi dua yaitu sastra  tulis dan sastra lisan (Sumardjo dan Saini, 1997 : 78-79).
Sejenak mari menjelajahi sejarah. Sastra lisan di Indonesia ternyata berkembang lebih pesat bila dibandingkan dengan sastra tulisan dan literatur manapun. Sastra adalah sebuah dunia tersendiri yang diciptakan oleh pengarang untuk diterima, diserap dan ditanggapi oleh masyarakat. Demikian juga sastra lisan berkembang di masyarakat karena masyarakat menerimanya.
Mengacu pada rumusan Politik Bahasa hasil seminar politik bahasa pada tahun 1999 di Bogor, sastra daerah, sastra berbahasa daerah dan merupakan unsur kebudayaan daerah, merupakan bagian dari kebudayaan nasional. Sastra daerah merupakan bukti historis kreativitas masyarakat daerah. Karena itu, sastra lisan perlu didokumentasikan, sehingga sastra lisan tidak hilang dan punah ditelan zaman. Sastra lisan didokumentasikan merupakan bagian dari pelestarian kesusastraan daerah. Sastra lisan hadir sebagai bagian dari sastra daerah. Etika didalamnya bagian terpenting untuk disajikan kepada pembacanya.
Cerita rakyat memang terjadi apa adanya, tidak diadakan. Kebenaran itu merefleksi kehidupan manusia. Sastra adalah ungkapan kreatif terpilih manusia, mengandung inti pati pikiran, hasrat, suatu cita-cita yang diberi bentuk. Tidak secara gamblang menunjukkan inti pati. Sastra lisan, hasil dari kultural masyarakatnya. Realitas kultural dan historis kita sebut karya sastra tidak berhenti di dalam teks. Teks hanya salah satu unsur dalam suatu relasi. Cerita rakyat dikembangkan dan didokumentasikan bukan menghilangkan makna sastra lisan.

2.3 Cerita rakyat
Cerita rakyat adalah cerita zaman dahulu yang hidup di masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun atau secara lisan dan berkembang dalam masyarakat. Cerita rakyat dibedakan menjadi :

1.    .Legenda
Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang punya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.
Contoh, Cerita Si Malin Kundang, Gunung Tangkuban Perahu, Dongeng Banyuwangi, Dongeng Gunung Batok,Dongeng Rawa pening, dan sebagainya.
2.    Sage
Sage merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi rakyat.
  Contoh : Hikayat Hang Tuah, Syariah Melayu, Ciungwanana, dan sebagainya.
3.Mite
Mite merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa atau kejadian dikalangan rakyat yang berdasarkan pada kepercayaan lama, terutama yang berhubungan dengan dewa-dewi, roh halus, atau kekuatan gaib.
Contoh : Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, dan sebagainya.
4.Fabel
Fabel merupakan cerita rakyat yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang.
 Contoh : Cerita Kancil yang Cerdik, Hikayat Kalila danDurina, Hikayat Bayan Budiman, dan sebagainya.

5.Paralel
Paralel merupakan cerita rakyat yang tokohnya adalah manusia dan hewan.
 Contoh : Anjing yang Loba, Semut dan belalang, Hikayat mahabrata, Hikayat Ramayana, dansebagainya.

6.Cerita penggeli hati
Cerita penggeli hati merupakan cerita rakyat yang berisikan kisah lucu atau jenaka.Contoh : Cerita pak kodok, cerita pak belalang, cerita pak pander, cerita lebai malang dan sebagainy

7.Hikayat
Hikayat  adalah salah satu bentuk sastra karya prosa lama yang isinya berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kepahlawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan mukjizat sang tokoh utama.
-    Macam-macam Hikayat berdasarkan asalnya, diklasifikasikan menjadi 4 :

1. Melayu Asli
    Hikayat Hang Tuah (bercampur unsur islam)
    Hikayat Si Miskin (bercampur unsur islam)
    Hikayat Indera Bangsawan
    Hikayat Malim Deman

2. Pengaruh Jawa
    Hikayat Panji Semirang
    Hikayat Cekel Weneng Pati
    Hikayat Indera Jaya (dari cerita Anglingdarma)

3. Pengaruh Hindu (India)
    Hikayat Sri Rama (dari cerita Ramayana)
    Hikayat Perang Pandhawa (dari cerita Mahabarata)
    Hikayat Sang Boma (dari cerita Mahabarata)
    Hikayat Bayan Budiman

4. Pengaruh Arab-Persia
    Hikayat Amir Hamzah (Pahlawan Islam)
    Hikayat Bachtiar
       -     Ciri-ciri Hikayat :
1. Anonim : Pengarangnya tidak dikenal
2. Istana Sentris : Menceritakan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana/ kerajaan
3. Bersifat Statis : Tetap, tidak banyak perubahan
4. Bersifat Komunal : Menjadi milik masyarakat
5. Menggunakan bahasa klise : Menggunakan bahasa yang diulang-ulang
6. Bersifat Tradisional : Meneruskan budaya/ tradisi/ kebiasaan yang dianggap baik
7. Bersifat Didaktis : Didaktis moral maupun didaktis religius (Mendidik)
8. Menceritakan Kisah Universal Manusia : Peperangan antara yang baik dengan yang buruk, dan dimenangkan oleh yang baik
9. Magis : Pengarang membawa pembaca ke dunia khayal imajinasi yang serba indah.
\

 Sifat Cerita Rakyat
•    Disampaikan secara lisan. Satu sifat sastra rakyat yang utama terletak pada cara penyampaiannya. Pada lazimnya sastra rakyat disampaikan melalui pertuturan. Ia dituturkan secara individu kepada indivdu yang lain atau sekumpulan individu yang lain. Misalnya seorang datuk akan menuturkan suatu cerita kepada seorang bapak, seterusnya dari seorang bapak dituturkan kepada seorang cucu. Selain itu, ia juga disampaikan oleh seorang yang profesional, yang kerjanya "bercerita" kepada anggota masyarakat yang lain. Dalam masyarakat melayu, profesional ini dikenali sebagi "tok cerita" ataupun "pawang", yang telah menghafal cerita-cerita tertentu daripada seorang guru, untuk menyampaikan cerita dengan cara yang menarik kepada orang kampung, untuk  menghiburkan orang kampung yang berkenaan.
•    Seringkali kali mengalami perubahan. Sastra rakyat merupakan suatu yang dinamik, di mana ia akan mengalami pokok tambah ataupun , menurut peredaran zaman. Daripada itu, kita boleh menjumpai berbagai variasi untuk suatu cerita rakyat di tempat yang berlain. Malahan, bagi seorang tok cerita, beliau mungkin akan melakukan perbuahan ke atas ceritanya secara spontan, semasa menyampaikan cerita kepada khalayak.
•     Merupakan kepunyaan bersama. Soal hak cipta tidak wujud pada sastra rakyat. Tiada siapa-siapa yang akan mengaku bahwa dialah pengarang bagi cerita rakyat yang tertentu. Bagi tok cerita ataupun pelipurlara yang kerjanya bercerira, beliau juga tidak mengakui dirinya sebagai pengarang cerita berkenan, melainkan meletakkan kepengarangan cerita berkenan kepada seorang individu yang anonmious, yakni Yang punya Cerita.
•    Sering memiliki unsur irama. Cerita pelipur lara yang disampaikan oleh pawang ataupun tok cerita senantiasa melindungi unsur irama yang menarik. Pengaturan ini adalah supaya cerita itu lebih menghibur bersamping untuk memudahkan tok cerita menghafal.
“Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Anawangguluri dan Oheo”
Dahulu, ada seorang pemuda bernama Oheo. Pekerjaannya sehari-hari adalah bertani. Pada suatu hari Oheo membuka kebun di hutan. Kebun itu ditanami tebu yang tumbuh dengan subur.
Pada saat tanaman tebunya tua, banyak burung nuri yang turun mandi di sungai dekat kebun itu. Sebelum mandi, burung-burung itu lebih dahulu makan tebu. Sehingga ampas tebu berhamburan di tepi sungai. Melihat kejadian itu Oheo sangat kesal dan jengkel pada burung-burung itu.
Suatu ketika Oheo pergi mengintip burung-burung itu. Namun apa yang dilihatnya sungguh membuatnya tercengang. Ia melihat tujuh orang bidadari cantik sedang mandi. Bidadari-bidadari itu turun dari khayangan. Pakaian mereka diletakkan di pinggir sungai.
Dengan hati berdebar-debar, Oheo merayap menuju ke tempat pakaian-pakaian itu. Dengan cepat Oheo mengambil sebuah pakaian bidadari itu. Kemudian ia segera pulang. Disimpannya pakaian itu dalam ujung kasau bambu dekat jendela. Sesudah itu, Oheo kembali mengintip perilaku para bidadari yang sedang mandi.
Usai mandi, para bidadari bergegas mengenakan pakaian mereka masing-masing. Yang sudah selesai berpakaian langsung terbang tanpa menunggu yang lainnya.
Satu demi satu mereka terbang. Tinggallah seorang bidadari yang mondar–mandir mencari pakaiannya. Tentu saja tidak tertemukan. Tidak berapa lama muncullah Oheo, si biang keladi yang menyebabkan sang bidadari terus berendam di dalam air.
Sambil tetap berendam dalam air karena malu, Anawangguri nama bidadari itu bertanya kepada Oheo. ?Apakah engkau melihat pakaianku disini??
Tidak,? jawab Oheo.
Anawangguluri semakin sedih. ?Tolonglah aku, Oheo. Kasihanilah daku. Kakak-kakakku sudah terbang semua,? tutur Anawangguluri.
Lama-kelamaan Oheo merasa iba kepadanya. ?Aku akan memberikan pakaianmu, asal kau mau kawin denganku,? tuturnya.
Anawangguluri menerima permintaan itu. Namun, Anawangguluri minta kepada Oheo, ?Bila di kemudian hari kita mempunyai anak, maka kaulah yang membersihkan kotoran anak kita,? tutur Anawangguluri.
Oheo pun menerima permintaannya. Maka kawinlah mereka. Sejak saat itu hidup mereka aman dan bahagia.
Pada suatu ketika lahirlah anak mereka. Seperti dalam perjanjian semula bahwa, setiap anaknya buang air besar maka Oheolah yang membersihkannya. Begitulah seterusnya.
Sekali waktu, Oheo sedang mengayam atap di halaman rumah. Sementara itu anak mereka buang air besar lagi. Maka Anawangguluri memanggil suaminya. Namun, kali ini dia menolak panggilan istrinya. Berkali-kali istrinya memanggil, tetapi tetap ditolaknya, bahkan Oheo berkeras dan menyuruh istrinya untuk membersihkan kotoran itu. Anawangguluri sempat berkata, ?Apakah kamu telah melupakan janjimu dahulu sebelum kita kawin??
Oheo menjawabnya dengan nada keras, ?Tak usah mengingat lagi yang lama.? Anawangguluri bertambah sedih.
Sambil berderai air matanya, ia membersihkan kotoran anaknya itu. Kemudian Anawangguluri berdiri ke depan jendela sambil menyaksikan pemandangan alam. Pandangan matanya dilemparkan kesana kemari, melihat ke angkasa. Tiba-tiba terlihat olehnya pakaiannya diujung kasau bambu itu. Dengan tangan yang gemetar, perlahan-lahan ia menarik pakaian itu.
Kiranya pakaian itu masih utuh. Alangkah senang hatinya ia duduk kembali menggendong anaknya sambil mencumbuinya. Diciumi anaknya, sesudah itu diletakkannya kembali di lantai seraya memanggil suaminya.
Oheo, jagalah anakmu ini, aku akan kembali ke kayangan.?
Mula-mula dia tidak percaya akan hal itu. Setelah dua kali dipanggilnya, Oheo beranjak dari duduknya halaman rumah. Sampai di dalam rumah, Anawangguluri telah terbang lagi dan hinggap di pohon pinang. Oheo mengejarnya terus, tetapi sia-sia. Anawangguluri terbang terus dan hinggap lagi di pohon kelapa. Akhirnya, ia terbang ke angkasa kembali ke kayangan.
Oheo merasa sedih, menyesali perbuatannya. Ia merasa bingung karena ditinggali anak kecil. Bagaimana cara merawat anak kecil, ia sendiri bingung. Itu sebabnya, ia berusaha berkeliling minta bantuan kepada siapa saja yang mau mengantarkannya ke angkasa. Berhari-hari ia keliling, tetapi belum ada yang mengaku bisa mengantarnya ke angkasa.
Pada suatu ketika ada sejenis tumbuhan bernama ?Ue-Wai? mengaku mau mengantarkan Oheo ke khayangan. Tetapi dengan syarat Oheo harus membuatkan Ue-Wai cincin untuk dipasang pada setiap tangkai daun.
Permintaan Ue-Wai itu dipenuhinya. Ue-Wai menyuruh Oheo duduk di tangkainya kemudian menggendong anaknya erat-erat. Sebelum tumbuhan itu menjulang ke angkasa, lebih dahulu, Ue-Wai memberikan petunjuk kepada Oheo. ?Setelah kita berada di angkasa, kita akan mendengarkan bunyi keras. Bunyi pertama, tutup matamu erat-erat. Bunyi kedua bukalah matamu!?
Petunjuk itu harus diikutinya. Benar juga, setelah berada diangkasa, bunyi keras meledak. Mata Oheo ditutupnya erat-erat. Bunyi kedua, membuka mata. Alangkah kagetnya ketika itu sudah berada di halaman istana raja khayangan. Sementara itu, putri-putri raja sedang berjalan-jalan disekitar istana. Salah seorang dari putri itu, melihat Oheo sedang duduk di halaman. Kejadian itu segera dilaporkan kepada ayahnya, Tuan Raja. ?Coba perhatikan manusia itu, jangan-jangan Oheo bersama anaknya,? titah Raja.
Setelah diperhatikan ternyata benar, bahwa yang datang itu adalah manusia dari bumi bernama Oheo, yang sedang mencari istrinya. Oheo tidak diperkenankan bertemu dengan istrinya, Anawangguluri, kecuali kalau lulus dalan ujian berat. Ujian itu adalah Oheo harus mampu menumbangkan batu besar, sebesar istana, kemudian harus memungut bibit padi yang dihambur di padang rumput tanpa sisa dan masih ada ujian berat lainnya. Ujian pertama lulus dengan dibantu oleh tikus, burung dan hewan lain. Ujian yang terberat lagi, yaitu harus dapat bertemu dengan istrinya dalam sebuah tempat tidur di waktu malam gelap gulita. Sementara itu tempat tidur sama bentuknya.
Ia diperintahkan oleh raja. Ia harus menemukan istrinya. Kalau tidak dapat, jiwanya akan terancam. Disaat itulah ia merasa tidak mampu memecahkan masalah. Sementara ia termenung, datanglah kunang-kunang seraya bertanya kepada Oheo. ?Apa gerangan yang membuat engkau bingung??
Aku mempunyai masalah berat. Sulit rasanya mencari istriku di dalam gelap gulita ini, sementara bentuk tempat tidur sama, muka istriku dengan saudara-saudaranya yang lain itu sama pula.?
Jangan khawatir, ikutilah aku. Aku terbang, dimana aku hinggap disitulah istrimu.?
Hati Oheo sungguh gembira sekali mendengar petunjuk itu. Ia memperhatikan kunang-kunang terbang.
Tiba-tiba kunang-kunang itu hinggap pada sebuah tempat tidur. Dengan hati gemetar, Oheo masuk ketempat tidur itu. Ternyata, memang benar disitulah istrinya. Anaknya pun merasa bahagia dapat tidur bersama ibunya lagi.
Keesokan harinya sang raja memerintahkan mereka untuk segera turun ke bumi. Anawangguluri merasa sedih hati ketika mendengar perintah ayahnya itu. Sebaliknya, Oheo merasa gembira sekali. Mereka segera mempersiapkan peralatan secukupnya untuk segera turun ke bumi. Setelah dipersiapkan segala sesuatunya, turunlah mereka ke bumi dengan tali. Dalam sekejap saja mereka telah sampai di bumi dengan selamat.
Sampai dibumi, Oheo bersama keluarganya mulai membentuk kembali keluarga baru. Oheo mulai membuka kebun baru. Kebun itu ditanami dengan padi dan tanaman lainnya. Dengan hasil kebun itu, Oheo bersama keluarganya hidup sejahtera dan bahagia.
Cerita ini erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Ketika Oheo dalam kesulitan ia ditolong oleh tanaman, hewan dan serangga hingga sampai di khayangan. Ini disebabkan Oheo memang akrab dengan lingkungan hidup dan selalu menjaga alam sekitar dan melestarikannya.





BAB III
PENUTUP
3.    1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan cerita zaman dahulu dan di wariskan kepada  masyarakat secara  turun temurun. Salah satu sifat sastra rakyat yang utama terletak pada cara penyampaiannya. Pada lazimnya sastra rakyat disampaikan melalui pertuturan. Ia dituturkan secara individu kepada  indivdu yang lain atau sekumpulan individu yang lain. Misalnya seorang datuk akan menuturkan suatu cerita kepada seorang bapak, seterusnya dari seorang bapak dituturkan kepada seorang cucu. Selain itu, ia juga disampaikan oleh seorang yang profesional, yang kerjanya "bercerita" kepada anggota masyarakat yang lain. Dalam masyarakat melayu, profesion ini dikenali sebagai "tok cerita" ataupun "pawang", yang telah menghafal cerita-cerita tertentu daripada seorang guru, untuk menyampaikan cerita dengan cara yang menarik kepada orang kampung, untuk menghibur orang kampung yang berkenan.









DAFTAR PUSTAKA
\

Buku Grafindo KTSP. 2006.  perpustakaan Man 2 Model: Medan.
Bunandra, Murti. 1998. Penulisan Cerita Rakyat. Jakarta: Balai Pustaka.
Danadjaja, James. 1986. Folklor Indonesia. Jakarta: PT. Pustaka Utama Aksara.
Endraswara, Suwardi. 2009. Metoologi Penelitian Folklor : Konsep, Teori, dan   Aplikasi, Yogyakarta: Media Press.
Kurniawan, Herlan. 2008. Cerita Rakyat Kahyangan di Kelurahan Dlepih Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri dan Fungsinya bagi Masyarakat: Tinjauan Resepsi. Surakarta: Skripsi Universitas Surakarta.
Sumardjo, Jakob. 1998. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia.
Suyitno. 1986. Sastra Tata Nilai dan Eksigegis. Yogyakarta: Balai Pustaka.
Zulfahnur, dkk. 2006. Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud.i, Yogyakarta: Media Press.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar