Selasa, 05 Juni 2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.
Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting, karena pendidikan itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan hidup manusia. Dengan semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh oleh seseorang maka semakin besar kesempatan untuk meraih sukses hidup di masa mendatang. Secara garis besarnya, pendidikan sangat berkompeten dalam kehidupan, baik kehidupan itu sendiri, keluarga, masyarakat maupun kehidupan bangsa dan negara.
 Pemerintah dalam hal ini telah mengatur dan mengarahkan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 3 menyebutkan tujuan dari pedidikan nasional yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan itu diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja. Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan. Dalam proses belajar mengajar.
Pendidikan di SekolAh menengah tingkat pertama (SLTP) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar ”baca-tulis-hitung”, pengetahuan dan ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangan. Terkait dengan tujuan memberikan bekal kemampuan dasar ”baca-tulis”, maka peranan pengajaran Bahasa Indonesia di SLTP yang bertumpu pada kemampuan dasar ”baca-tulis”, pembelajaran tidak hanya pada tahap belajar di kelas-kelas awal tetapi juga pada kemahiran atau penguasaan di kelas-kelas tinggi.
Bahasa Indonesia sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan bahasa di samping aspek penalaran dan hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk bahasa dan sastra. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan metode yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.
Sejalan dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), salah satu upaya yang dilaksanakan di sekolah ini adalah penggunaan dongeng sebagai metode pembelajaran. Hal ini harus dilakukan agar kebutuhan peserta didik dapat terlayani dengan baik sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan kata lain fungsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sebagai kerangka dasar dan harus dijabarkan sendiri oleh guru dengan melihat potensi, situasi dan kondisi masing-masing sekolah. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam proses pembelajaran harus berjalan secara kreatif, inovatif, efektif, menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik. Perubahan dan implementasi itu tidak hanya konsep, metode dan strategi guru dalam mengajar akan tetapi situasi dan kondisi siswa juga harus kondusif dan menyenangkan, sehingga siswa merasa nyaman belajar di sekolah.
Metode pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara adalah antara lain dengan dongeng. Dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (Poerwadarminta, 1985: 357). Menurut pengamatan peneliti dongeng sangat baik digunakan dalam pembelajaran, karena siswa akan lebih tertarik dengan adanya dongeng dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pandapat Abdul Aziz Abdul Majid (2002: 30) yang mengatakan bahwa dongeng dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak. Dongeng yang sering digunakan dalam pembelajaran untuk anak kelas I adalah dongeng tentang binatang (fabel).
Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) bahkan sindiran. Jadi, dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat, yang mempunyai keguanaan sebagai alat hiburan atau pelipur lara dan sebagai alat pendidik (pelajaran moral). Pengisahan dongeng mengandung suatu harapan-harapan, keinginan dan nasihat yang tersirat maupun yang tersurat. Ketika seorang ibu bercerita kepada anak-anaknya kadang-kadang ajarannya diungkapkan secara nyata dalam akhir cerita tetapi tidak jarang diungkapkan secara tersirat. Dalam hal ini sang anak diharapkan mampu merenungkan, mencerna dan menterjemahkan sendiri amanat yang tersirat didalam cerita tadi.
Jadi dari uraiyan penbahasan serta pengkajian latar belakang  diatas maka penulis berkesipulan dan tertarik untuk menganggakat sebuah judul” Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas 2 sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP Negri ) 2 raha, kec. Batalai woru, kab.muna.








1.2     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a.    Apakah pembelajaran melalui dongeng dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas 2 SLTP Negri 2 Raha?
b.    Bagai mana cara siswa bisa dapat cepat menanggapi cerita dongeng dalam mengasa kemampuan berbicara?

1.3    Tujuan penelitia
Berdasarkan perumusan masalah di atas dapat ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut :
a.    Untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam proses pembelajaran melalui dongeng pada siswa kelas I SD Negeri 2 Bendosari”

1.4    Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
1.    Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi penelitian lain serta dapat menambah khasanah keilmuan dalam dunia pendidikan.
2. Praktis
a. Bagi Sekolah
Dapat digunakan sebagai bahan membuat kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
b. Bagi Guru
Dapat memperoleh keterampilan baru yaitu penggunaan dongeng dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya aspek berbicara pada siswa kelas VIIA SLTP Negri 2 Raha.
c. Bagi Siswa
Meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Hakikat Kemampuan Berbicara
Kemampuan yang dimiliki oleh manusia merupakan bekal yang sangat pokok. Kemampuan ini telah berkembang selama berabad-abad yang lalu untuk memperkaya diri dan untuk mencapai perkembangan kebudayaan yang lebih tinggi. Misalnya para ilmuwan berusaha terus menemukan sumber-sumber energi yang baru, dengan menggunakan hasil penemuan ilmiah yang digali oleh generasi terdahulu terjadi karena manusia dibekali berbagai kemampuan untuk berbicara.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 235) kemampuan berarti kesanggupan; kecakapan; kekuatan kita berusaha dengan diri sendiri. Poerwadarminta (2007: 742) mempunyai pendapat lain tentang kemampuan yaitu mampu artinya kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Pendapat lain dikemukakan juga oleh Nurhasnah (2007: 552) bahwa mampu artinya (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan. Sehubungan dengan hal tersebut Didik Tuminto (2007: 423) menyatakan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan atau kekuatan.
Sedangkan Woodworth dan Marquis (1957: p.58) memberikan defisi bahwa kemampuan (ability) mempunyai 3 arti yaitu (achievement) yang merupakan actual ability, yang dapat diukur langsung dengan alat atau tes tertentu; (capacity) yang merupakan potential ability, yang dapat diukur secara tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, di mana kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan training yang intensif dan pengalaman; (aptitude) yaitu kualitas yang yang hanya dapat diungkap/diukur dengan tes khusus yang sengaja dibuat untuk itu. Ability (kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan) merupakan tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan.
Kemampuan (capability) adalah kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh perorangan, keluarga dan masyarakat yang membuat mereka mampu mencegah, mengurangi, siap siaga, menanggapi dengan cepat atau segera pulih dari suatu kedaruratan dan bencana Sedangkan menurut Kevin Davis dalam Mangkunegara (2000: P.67) secara psikologis, kemampuan (ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge skill). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan merupakan kacakapan atau keahlian seseorang dalam mencapai sesuatu hal yang ia inginkan atau keinginannya.
b. Pengertian Berbicara
Berbicara adalah bercakap, berbahasa, mengutarakan isi pikiran, melisankan sesuatu yang dimaksudkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007: 165). Sedangkan Djago Tarigan (1998: 15), mengungkapkan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan -gagasan atau ide yang dikombinasikan. Hal yang berbeda dikemukakan oleh Maidar, Arsjad dan Mukti US (1991: 17) bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyian artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan pesan, pikiran, gagasan, dan perasaan. Berbicara adalah unkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa.
Sehubungan dengan hal itu Widdowson (1978: 59) menyatakan bahwa berbicara sesungguhnya merupakan kemampuan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Berbicara dapat pula diartikan sebagai kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan, atau perasaan secara lisan (Brown G&G Yule, 1983: 2). Pendapat lain diungkapkan pula oleh Nuraeni (2002: 87) bahwa berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, idea tau gagasan dari pendengar sabagai komunikan.
c. Pengertian Kemampuan Berbicara
Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, di samping kemampuan aspek mendengarkan, membaca, dan menulis. Keberanian untuk berbicara, bertanya dan mengungkapkan gagasan sangat mendukung dalam proses pembelajaran khususnya Bahasa Indonesia. Untuk itu kemampuan berbicara perlu dikembangkan kepada siswa sedini mungkin Kemampuan merupakan tuntutan utama yang harus dikuasai oleh guru. Guru yang baik harus dapat mengekspresikan pengetahuan yang dikuasainya secara lisan.
Sedangkan menurut Nuraeni (2002: 87), kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan. Sehubungan dengan hal tersebut Isnaini Yulianita Hafi (2000: 91) mengungkapkan bahwa kemampuan berbicara sebagai kemampuan produktif lisan yang menuntut banyak hal yang harus dikuasai oleh siswa, meliputi penguasaan aspek kebahasaan dan nonkebahasaan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan untuk menyampaikan informasi secara lisan yang menuntut keberanian serta kemahiran dalam aspek kebahasaan dan nonkebahasaan.
2. Hakikat Dongeng
a. Pengertian Dongeng
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menyampaikan pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pesan disampaikan secara langsung melalui percakapan antara penyampai pesan dengan pihak yang menjadi sasaran pesan tersebut. Pesan dapat juga disampaikan secara tidak langsung melalui metode khusus, seperti lagu, komik maupun dongeng.
Menurut Poerwadarminto (1985: 357) mendefinisikan dongeng adalah: “ Cerita terutama tentang kejadian zaman dahulu yang aneh-aneh atau cerita yang tak terjadi”, sedangkan menurut sarikata Bahasa Indonesia (1998: 155) dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dahulu yang aneh-aneh). Jadi dongeng merupakan cerita yang dibuat tentang hal-hal aneh yang merupakan kejadian yang tidak sesunggguhnya terjadi. Dongeng termasuk bentuk prosa lama.
Cerita rakyat merupakan salah satu tradisi yang sampai sekarang masih banyak dijumpai dalam masyarakat. Cerita prosa rakyat penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan. Menurut Wiliam R. Bascom dalam Danandjaja (1986: 85) bahwa cerita rakyat dapat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (Folktale). Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. James Danandjaja (1986: 86) berpendapat bahwa kata dongeng menurut pengertian yang sempit adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan, sedangkan pengertian dongeng      dalam arti luas adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.
Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) bahkan sindiran. Jadi, dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat, yang mempunyai keguanaan sebagai alat hiburan atau pelipur lara dan sebagai alat pendidik (pelajaran moral).
Pengisahan dongeng mengandung suatu harapan-harapan, keinginan dan nasihat yang tersirat maupun yang tersurat. Ketika seorang ibu bercerita kepada anak-anaknya kadang-kadang ajarannya diungkapkan secara nyata dalam akhir cerita tetapi tidak jarang diungkapkan secara tersirat. Dalam hal ini sang anak diharapkan mampu merenungkan, mencerna dan menterjemahkan sendiri amanat yang tersirat didalam cerita tadi.
Indonesia adalah negara yang kaya akan dongeng, khususnya dongeng untuk anak-anak. Masing-masing wilayah di Indonesia memiliki koleksi dongeng yang memanfaatkan potensi alam sekitar, supaya emosi audiensi dapat lebih terbangun. Tengok saja dongeng timun mas dari Jawa Tengah, Si Kabayan dari Jawa Barat atau juga Pengeran Si Katak-katak dari Sumatra Utara. Sampai saat ini, dongeng masih memiliki tempat di hati anak-anak Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kemasan dongeng yang merupakan perpaduan antara unsur hiburan dengan pendidikan.
Unsur pendidikan ditujukan melalui pesan yang dimuat, baik melalui cerita yang terakhir dengan kebahagiaan maupun kesedihan. Inti dari sebuah dongeng dapat dijadikan bahan perenungan bagi audiensinya. Unsur hiburan merupakan “bumbu penyedap” supaya penyampaian dongeng tidak menimbulkan kebosanan, bisaanya dengan dialog interaktif antara pendongeng dengan audience atau dengan humor.
b. Unsur-unsur dalam Dongeng
Dalam sebuah dongeng terdapat unsur-unsur penting yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema. Dongeng yang bermutu memiliki perkembangan yang memadai pada keempat unsur tersebut. Mungkin unsur yang satu lebih ditekankan daripada unsur yang lain, tetapi semua dikembangkan dengan baik.
Menurut Lustantini (1998: 16) penyebab ketertarikan audience pada dongeng tidak terlepas dari empat unsur penting dongeng yaitu :
1) Alur
Alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku. Alur ada dua macam, yaitu alur lurus dan alur sorot balik.
Alur lurus adalah peristiwa yang disusun mulai dari awal, tengah, yang diwujudkan dengan pengenalan, mulai bergerak, menuju puncak dan penyelesaian. Alur sorot balik adalah urutan peristiwa yang dimulai dari tengah, awal, akhir atau sebaliknya.
Alur dapat melibatkan ketegangan, pembayangan dan peristiwa masa lalu. Hal ini dimaksudkan untuk membangun cerita agar peristiwa ditampilkan tidak membosankan. Alur ditutup dengan ending, yaitu happy ending (bahagia) atau sad ending (sedih).


2) Tokoh
Setiap cerita memiliki paling sedikit satu tokoh dan biasanya ada lebih dari satu. Tokoh-tokohnya mungkin binatang, orang, obyek, atau makhluk khayal. Berikut penjelasan tentang penokohan dalam dongeng:
a)    Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa yang ada dalam cerita (Lustantini Septiningsih, 1998: 16).
b)    Tokoh dapat memiliki dua sifat, yaitu protogonis (karakter yang melambangkan kebaikan, menunjukkan sikap positif dan merupakan contoh yang layak ditiru) dan antagonis (karakterister yang berlawanan dengan tokoh protagonis, merupakan contoh karakter yang harus dijauhi sikap dan perbuatannya).
c)    Penokohan yang dipilih dipengaruhi oleh sifat, ciri pendidikan, hasrat, pikiran dan perasaan yang akan diangkat oleh pengarang untuk menghidupkan dongeng.
3) Latar / Setting
Istilah latar biasanya diartikan tempat dan waktu terjadinya cerita. Hal tersebut sebagian benar, tetapi latar sering berarti lebih dari itu. Di samping tempat dan periode waktu yang sebenarnya dari suatu cerita, latar meliputi juga cara tokoh-tokoh cerita hidup dan aspek kultural lingkungan. Berikut penjelasan tentang latar atau setting:
a)    Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacauan yang berkaitan dengan ruang, waktu dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra (Lustantini Septiningsih, 1998: 44).
b)    Latar ada dua macam, yaitu latar sosial (mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikapnya, adat kebisaaan, cara hidup, maupun bahasa yang melatari peristiwa) dan latar fisik atau material (mencakup tempat, seperti bangunan atau daerah).
c)    Latar adalah cerita akan memberi warna cerita yang ditampilkan, disamping juga memberikan informasi situasi dan proyeksi keadaan batin para tokoh.
4) Tema
a)    Tema adalah arti pusat yang terdapat dalam suatu cerita.
b)    Pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh pengarang dipengaruhi oleh pengalaman, jiwa, cita-cita dan ide yang diwujudkan lewat tema.
c)    Pengarang menampilkan sesuatu tema karena ada maksud tertentu atau pesan yang ingin disampaikan. Maksud atau pesan yang ingin disampaikan itu disebut amanat. Jika tema merupakan persoalan yang diajukan, amanat merupakan pemecahan persoalan yang melahirkan pesan-pesan.

     Keempat unsur penting diatas merupakan kunci ketertarikan audience pada suatu dongeng. Satu unsur dapat lebih menonjol diantara unsur lainnya, karena bisa jadi sebuah dongeng dikatakan menarik karena alur dan penokohan saja yang menonjol. Tentu lebih baik apabila keempat unsurnya dapat dikerjakan oleh pengarang dongeng dengan maksimal. Contoh dari dongeng yang memiliki kekuatan dari seluruh unsur penting dongeng adalah Timun Mas. Alur cerita yang melibatkan ketegangan dan peristiwa masa lalu telah berhasil memancing imajinasi audience untuk mengikuti cerita. Penokohan dikerjakan dengan mengikutsertakan karakter protagonis dan antagonis yang menghasilkan kekontrasan. Timun Mas dan orangtunya melambangkan karakter protagonis sedangkan raksasa melambangkan karakter yang antagonis dengan kejahatan dan ketamakannya. Latar cerita benar-benar mengajak imajinasi audience pada suasana kehidupan pedesaan yang penuh fantasi. Tema dari dongeng ini jelas, yaitu menggambarkan tentang keberanian bertindak diatas kebenaran untuk mengalahkan ketamakan dan kejahatan.keempat unsur ini sangat sesuai dengan target audiencenya yaitu anak-anak. 
c. Macam-macam Dongeng
Cerita dalam sebuah dongeng dapat mempengaruhi minat anak untuk membacanya, karena setiap anak mempunyai selera yang berbeda-beda dalam diri mereka.
Dilihat dari isinya, dongeng dibedakan menjadi 5 macam yaitu :
1) Dongeng yang lucu
Lucu menurut Poerwadarminto (1985: 610) yaitu: “menimbulkan tertawa” jadi dongeng yang lucu adalah cerita yang berisikan kejadian lucu yang terjadi pada masa lalu. Cerita dalam dongeng lucu dibuat untuk menyenangkan atau membuat tertawa pendengar atau pembaca.
Contoh : Dongeng Abu Nawas
2) Fabel
Poerwadarminto (1985: 278) mendefinisikan “Fabel adalah cerita pendek berupa dongeng, mengambarkan watak dan budi manusia yang diibaratkan pada binatang”. Fabel digunakan untuk pendidikan moral, dan kebanyakan fabel menggunakan tokoh-tokoh binatang, namun tidak selalu demikian. Disamping fabel menggunakan tokoh binatang ada yang menggunakan benda mati. Jadi fabel merupakan cerita pendek atau dongeng yang memberikan pendidikan moral yang menggunakan binatang sebagai tokohnya.
Contoh : Dongeng kancil dan harimau
3) Legenda
Poerwadarminto (1985: 578) mendefinisikan legenda adalah : “cerita dari zaman dahulu yang bertalian dengan peristiwa-peristiwa sejarah”. Menurut sarikata Bahasa Indonesia (2007: 21) legenda adalah: “Cerita yang isinya tentang asal-usul suatu daerah”. Legenda baik sekali digunakan untuk pendidikan di kelas-kelas rendah Sekolah Dasar untuk mengajarkan konsep-konsep. Jadi legenda merupakan cerita dari zaman dahulu yang merupakan kejadian-kejadian yang berhubungan   dengan suatu tempat atau peristiwa yang baik digunakan dalam pendidikan dasar.
Contoh : Asal mula Danau Toba
4) Sage
Sage menurut Poerwadarminto (1985: 848) adalah “Cerita yang mendasar peristiwa sejarah yang telah bercampur dengan fantasi rakyat”, sedangkan menurut sari kata Bahasa Indonesia (2007: 20) sage yaitu dongeng yang mengandung unsur sejarah. Jadi dapat disimpulkan bahwa sage merupakan cerita dongeng yang berhubungan dengan peristiwa atau sejarah.
Contoh : Panji semirang
5) Mite
Mite menurut Poerwadarminto (1985: 641) adalah “cerita yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya”. Sedangkan menurut Sarikata Bahasa Indonesia (2007: 20) mite didefinisikan sebagai: “dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat”. Jadi mite merupakan cerita tentang kepercayaan suatu masyarakat yang diyakini oleh masyarakat tetapi tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Contoh : Nyai Loro Kidul
Dalam penelitian ini yang akan digunakan adalah Fabel (dongeng binatang), beberapa alasan penggunaan fabel adalah:
1) Tokoh-tokoh binatang sangat menarik bagi anak;
2) Lewat tokoh binatang dapat memberikan pendidikan anak;
3) Anak akan memiliki rasa sayang pada binatang;
4) Setelah besar anak akan memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan alam lingkungannya, khususnya alam fauna;
5) Anak menyenangi hal-hal yang fantastik seperti halnya binatang yang  mirip manusia.
3. Hakikat Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
a. Pengertian Metode
Metode merupakan teknik atau cara yang harus dilalui untuk melakukan suatu pekerjaan dalam rangka mencapai suatu tujuan (Roestiyah, 1998: 1). Sedangkan menurut Saliwangi (1994: 4), metode adalah cara yang dipilih untuk mencapai tujuan tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut Sunaryo (1995: 73) berpendapat bahwa metode adalah cara-cara yang ditempuh untuk mencapai suatu hasil yang memuaskan.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode adalah: cara yang dianggap efisien yang digunakan untuk dapat mencapai hasil secara optimal.

b. Pengertian Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pembelajaran adalah kata benda yang diceritakan sebagai proses, cara menjadikan orang atau makhluk belajar (Poerwadarminto, 2007: 17). Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusia, material, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan (Oemar Hamalik, 1995: 57). Untuk itu jika dilihat dari kondisi pembelajaran maka pendidikan formal harus mampu memaksimalkan peluang bagi murid, untuk berlangsungnya interaksi yang hakiki, bukan  sekedar menyampaikan pengetahuan dan membentuk ketrampilan saja. Bila proses menyampaikan pengetahuan dan membentuk keterampilan saja yang dipergunakan maka akan menurunkan kualitas pembelajaran. Menurut Corey dalam Nyimas Aisyah (2007: 1.3) pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus untuk menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Pendapat lain diungkapkan oleh Gagne, Birggs, dan Wager dalam Udin S Winata Putra (2007: 1.19) bahwa Instruction is a set of event that affect learners is such a way the learning is facilitated. Pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Suprapto (2003: 9) berpendapat bahwa pembelajaran didefinisikan sebagai suatu system atau proses membelajarkan subyek didik yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Suyitno (2004: 1) pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa. Senada dengan hal tersebut Gino, Suwarni, Suripto H.S, Maryanto, dan Sutijan (1998: 30) mengungkapkan bahwa istilah pembelajaran sama dengan “instruction” atau pengajaran, yang berarti: cara, perbuatan atau mengajarkan. Pengajaran berarti perbuatan belajar (oleh siswa) dan mengajar (oleh guru). Selanjutnya pembelajaran dapat pula diartikan sebagai usaha untuk memberi stimulus kepada siswa agar menimbulkan respon yang tepat seperti yang digunakan, atau biasa juga dikatakan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan disengaja oleh guru  untuk membuata siswa belajar dengan jalan mengaktifkan faktor intern dan ekstern dalam kegiatan belajar mengajar.
Para ahli psikologi kognitif menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan suatu usaha untuk mengaktifkan indera siswa agar siswa memperoleh pemahaman. Cara untuk mengaktifkan indera siswa dapat dilakukan denagan cara menggunakan alat bantu belajar atau metode belajar seperti metode cetak atau metode elektronik sesuai dengan kebutuhan. Sehubungan dengan hal itu pula, Djamarah (1997: 11) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan. Sejalan dengan pendapat di atas, Slameto (1995: 2) mengartikan pembelajaran sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat lain dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata (1981: 2) bahwa pembelajaran adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar aktual maupun potensial. Perubahan itu pada hakikatnya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan perubahan itu terjadi karena usaha. Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses mental yang terjadi dalam diri seseorang dan melibatkan kegiatan berpikir yang terjadi melalui interaksi aktif dengan lingkungan (pengalaman belajar), sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang positif. Pembelajaran adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman baik alami maupun manusiawi. Proses konstruksi itu dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses yang aktif. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dipunyai, kemampuan kognitif dan lingkungan berpengaruh terhadap prestasi belajar. Kelompok belajar dianggap sangat, membantu belajar karena mengandung beberapa unsur  yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang. Pembelajaran juga dapat diartikan adanya perubahan yang menuju ke arah yang lebih maju dan perubahan itu Dengan demikian pembelajaran bukan hanya tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah proses yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan baru yang berupa reaksi dan perangsang. Belajar akan membawa suatu perubahan yang tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga bentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri dan minat.
 Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh karena adanya usaha yang disengaja yang berupa pengalaman atau reaksi situasi. didapatkan dengan latihan yang disengaja.
c. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode di dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat penting, karena merupakan tata cara dalam menentukan langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan. Dengan menggunakan metode secara tepat dan akurat, guru akan mampu mencapai tujuan dalam pembelajaran. Jadi guru sebaiknya menggunakan metode mengajar yang dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang paling efektif untuk mencapai tujuan pengajaran (Syaiful Bahri Djamarah dan Asmawan Zain, 1996: 109). Metode pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Menurut Roestiyah (1998: 1) metode pembelajaran adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Pendapat lain dikemukakan oleh Saliwangi (1994: 1) bahwa metode pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dan untuk memberikan kemudahan kepada siswa menuju tercapainya tujuan tertentu. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah: cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru di dalam menyampaikan materi pembelajaran tertentu kepada siswa agar pembelajaran yang dirumuskan sebelumnya dapat tercapai secara optimal.
d. Jenis-jenis Metode Pembelajaran
1.    Menurut Saliwangi (1994: 56-62), metode pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a)    Metode ceramah, metode ceramah paling efisien untuk menyampaikan informasi dengan cara guru bercerita;
b)    Metode tanya jawab, metode ini dapat digunakan untuk menilai tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan atau materi yang diberikan;
c)    Metode diskusi kelompok, metode ini bertujuan agar siswa mampu bekerja sama dengan teman yang lain dalam mencapai tujuan bersama;
d)    Metode pemberian tugas, siswa diharapkan ikut serta secara aktif datam suatu proses belajar mengajar;
e)    Metode studi kasus, metode menganalisis masalah, menghubungkan masalah dengan kehidupan sehari-hari;
f)    Metode brain storming (meramu pendapat), metode meramu pendapat merupakan perpaduan antara teknik tanya jawab dengan teknik diskusi;
g)    Metode eksperimen, yaitu guru mendemonstrasikan secara langsung dan siswa memperhatikannya pada kesempatan berikutnya siswa mencobanya sendiri;
h)    Metode simulasi, sebagai tiruan dari keadaan yang sesungguhnya;
i)    Metode sosiodrama, suatu cara dimana siswa mendramatisasikan sekaligus memecahkan masalah kehidupan di masyarakat.
2.    Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar. Depdikbud (1994: 37-47), metode pembelajaran diklasifikaskan sebagai berikut:
a)    Metode penugasan, yaitu suatu cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk yang dipersiapkan guru;
b)    Metode eksperimen, yaitu suatu cara memberikan kepada siswa secara perseorangan atau kelompok, untuk melatih melakukan suatu proses percobaan secara mandiri;    

c)     Metode proyek, yaitu cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan dan mengembangkan sebanyak mungkin pengetahuan yang telah diperoleh dari berbagai mata pelajaran; Metode diskusi, yaitu cara penguasaan bahan pelajaran melalui wahana tukar pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh guna memecahkan suatu masalah untuk mecapai suatu kesepakatan; Metode widyawisata, yaitu cara penguasaan bahan pelajaran dengan membawa siswa langsung kepada objek; Metode latihan, yaitu metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih melakukan suatu keterampiian tertentu berdasarkan petunjuk guru; (j) Metode ceramah, yaitu suatu cara mengajar dengan penyajian melalui penuturan dan penerangan lisan kepada siswa; (k) Metode pameran, metode pameran digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyajikan dan menjelaskan apa yang telah dipelajari; (l) Metode cerita, yaitu suatu cara penanaman nilai-nilai kepada siswa dengan mengungkapkan kepribadian lokoh-tokoh melalui penuturan hikayat, legenda, dongeng dan sejarah lokal; (m) Metode simulasi, yaitu suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui kegiatan praktek langsung tentang pelaksanaan nilai-nilai penerapan pengetahuan dan keterampilan sehari-hari.















BAB III
METODE DAN PENELITIAN

3.1 Metode dan Jenis Penelitian
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Metode Ceramah. Ditinjau dari segi data dan sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini termasuk jenis penelitian kelas.
3.2  Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer yang diperlukan dalam penelitian ini berasal dari siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Raha. Data yang diperoleh dari siswa bertujuan untuk mengetahui kelancaran berbicara siswa. Sumber data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari guru kelas VIIA SMP 2 Raha yang bertujuan untuk mengetahui   prestasi belajar di kelas, dan data yang diperoleh dari teman sejawat bertujuan untuk mengetahui perilaku kerja sama dalam lingkungan belajar.
Selain itu informasi juga digali dari berbagi sumber data dan jenis data yang lain meliputi :
1. Arsip, daftar nilai, raport, catatan pribadi siswa;
2. Tes hasil belajar.



3.3 Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan bentuk penelitian dan sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Observasi
Yatim Rianto (2001: 77) observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Winarni ( 2009: 84 -85 ) menyatakan bahwa dalam melakukan observasi proses, ada empat metode observasi yaitu :
a. Observasi terbuka
Dalam observasi terbuka, pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan kertas kosong untuk merekam pelajaran yang diamati. Dia menggunakan teknik-teknik tertentu untuk merekam jalannya perbaikan sehingga dapat merekontruksi pelajaran yang berlangsung.
b. Observasi terfokus
Observasi secara khusus ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran. Misalnya yang diamati kesempatan siswa untuk berpartisipasi, dampak pungutan bagi siswa, atau sejenis pertanyaan yang diajukan oleh guru. Tentu semua fokus telah disepakati sebelum berlangsungnya observasi.
c. Observasi terstruktur
Observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (v) pada tempat yang disediakan
d. Observasi sistematik
Observasi sistematik lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori yang diamati. Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal dan nonverbal.
Dalam penelitian ini, observasi dilakukan dengan menggunakan metode observasi terstruktur. Observasi dilakukan terhadap siswa dan guru kelas I SD Negeri 2 Bendosari. Observasi terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui situasi dan perkembangan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia aspek berbicara melalui dongeng. Observasi terhadap guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
2. Tes
Tes hasil belajar siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Raha untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima bahan ajar dan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui dongeng.









DAFTAR PUSTAKA
Bahri Djamarah dan Asmawan Zain. 1996. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Danandjaja. 1986. Cerita rakyat. Yogyakarta: IKIP.
Darmiyati Zuchi dan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah. Yogyakarta: PAS.
Depdikbud. 1994. Metode Pembelajaran. Jakarta: Pusat Kurikulum Pendidikan Dasar.
Didik Tuminto. 2007. Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Rajawali Pres.
Djago Tarigan. 1998. Berbicara. Bandung: Angkasa.
Djamarah. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra di Kelas Tinggi. Malang: UNM.
Gino, Suwarni, Suripto, Maryanto, Sutijan. 1998. Belajar dan Pembelajaran. Surakarta: UNS Pres.
Herry Guntur Tarigan. 1979. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: CV Angkasa.
Isnaini Yulianita Hafi. 2000. Reproduktif Siswa dalam Keterampilan Berbahasa. Yogyakarta: IKIP.
Lustantini Septiningsih. 1998. Komponen-komponen Dongeng. Yogyakarta: IKIP. 
Mangkunegara. 2000. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Moedjiono, Moh. Dimyati. (1991). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Muhammad Ali. 1993. Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung: Angkasa.
Mulgrave, Dorothy. 1954. Speech. New York: Barnes & Noble, Inc.
Nana Sudjana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ngalim Purwanto. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nuraeni. 2002. Pembelajaran Bahasa Indonesia SD dan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: BPG.
Nurhasnah. 2007. Kemampuan Berbahasa Indonesia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nyimas Aisyah. 2007. Pembelajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Balai Pustaka.
Poerwadarminta. 1985. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Poerwadarminta. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Roestiyah. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Saliwangi. 1994. Pendidikan Bahasa dan Sastra. Jakarta: Rineka Cipta.
Sarwiji Suwandi. 2006. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen P danK.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara.
Sumadi Suryabrata. 1981. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa.
Sunaryo. 1995. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: FKSS – IKIP.
Suprapto. 2003. Pengembangan Pembelajaran SD. Bandung: Angkasa.Suyitno. 2004. Pembelajaran di SD. Jakarta: Bhatara Karya Aksara. .
Widdowson. 1978. Fundamentals of Speech. New York: Mc Graw-Hill Book Company, Inc.
a

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar